Beranda UPDATES Pengalaman Wisnu ‘Gareng’ Guntoro di GIVI Rimba Raid Adventure Racing

Pengalaman Wisnu ‘Gareng’ Guntoro di GIVI Rimba Raid Adventure Racing

PAHANG, MALAYSIA, 10 Juli 2018 – Jurnalis dan penghobi off-roader roda dua Wisnu Guntoro Adi baru-baru ini mengikuti Kejuaraan balap reli sepeda motor GIVI Off Rimba Raid Adventure Racing 2018 di Pahang, Malaysia. Pria yang akrab di sapa Gareng tersebut malah baru juga menyelenggarakan Ahoy Geboy Adventure Ride 2018 ke Kasepuhan Ciptagelar di Kecamatan Cisolok, Pelabuhan Ratu, Sukabumi Jawa Barat, yang diikuti oleh ratusan peserta.

Nah tak lama setelah itu, Ia terbang ke Malaysia khusus untuk mengikuti Rimba Raid yang telah diselenggarakan sejak 2015 dan medannya sangat menantang para off-roader roda dua. Nah bagaimana petualangan Wisnu ‘Gareng’ mengikuti kejuaraan itu, Ia menuliskannya untuk Motovaganza.

Rimba Raid, sebuah balap reli sepeda motor di alam bebas, kembali dilangsungkan di Kampung Mat Daling yang berada di kawasan hutan Taman Negara Malaysia, Jerantut, Pahang. Lomba yang dihelat pada 6-8 Juli 2018 ini diikuti tak kurang dari 120 peserta dari sembilan negara (Malaysia, Thailand, Singapura, Indonesia, Filipina, Skotlandia, Perancis, Italia, dan Australia).

Mereka terbagi dalam empat kelas yang diklasifikasi sesuai jenis sepeda motor dan kapasitas mesin, yaitu Kelas A: dual-purpose di atas 700cc, Kelas B: dual-purpose 400-650cc, Kelas C: adventure 250-750cc, serta Kelas Enduro.

Wisnu “Gareng” Guntoro Adi

Indonesia sendiri diwakili Opstitiyon Werong Budiman dari Bali yang turun di Kelas C menggunakan Honda CRF 250 Rally, dan Wisnu Guntoro Adi, seorang jurnalis petualang yang masuk sebagai observator sekaligus tim GIVI sponsor utama Rimba Raid 2018. Wisnu masuk dalam Grup A menunggang New Triumph Tiger 800 XCX.

Managing director Rimba Ride Sdn Bhd Nik Huzlan mengatakan Rimba Raid 2018 sebagai kejuaraan kelima yang telah dilangsungkan sejak 2015. “Rimba Raid ada dua. Pertama edisi Mat Daling yang lebih menekankan pada adventure kecepatan tinggi, dan edisi Janda Baik yang melombakan teknik adventure. Keduanya terpisah,” katanya.

Rimba Raid boleh dikatakan sebagai balap yang meleburkan tiga aspek, yaitu kecepatan, keterampilan, dan petualangan. Seluruh peserta dalam lomba ini dituntut mampu menghadapi berbagai lintasan alam dengan waktu tercepat.

Dikatakan Wisnu lomba Rimba Raid dilangsungkan di kawasan hutan primer dengan sebagian besar lintasan berupa tanah. “Kalau dijalani dengan sepeda motor jenis enduro atau trail tentu terasa mudah. Terlebih jika mereka terbiasa main trail. Tapi bagi mereka yang menggunakan motor-motor besar dual-purpose lintasannya menjadi sangat menantang,” ucap Wisnu.

Dalam lomba tersebut tampil sebagai pemenang dalam Kelas A adalah M.H. Mohd Saleh dari Malaysia dengan catatan waktu 2 Jam 33 Menit 07 Detik. Sementara tempat kedua Matteo Graziani (Italia) 02:41:03, disusul M. Zulkarnain B Tahir (Malaysia) 02:49:22 di urutan ketiga.

Di Kelas B pemenang diraih M. Nazmee bin Ramli (02:35:28), kedua M. Khairul Afif (02:48:50), dan ketiga M. Asri bin Ismail (03:01:04). Adapun pemenang pada Kelas C diambil Ahmad Iezzam (02:28:41), diikuti M. Hairy yang lebih lambat 50 menit 28 detik dan Rizal bin Zakaria di urutan ketiga.

100KM OFF-ROAD

Rimba Raid memang menawarkan kompetisi yang unik. Lomba ini tidak hanya menuntut keterampilan menguasai sepeda motor di lintasan alam, tetapi juga menguras stamina dan mental. Terlebih untuk para peserta yang masuk dalam Kelas A, di mana mereka menggunakan motor-motor besar dual-purpose di atas 800cc.

Diceritakan Wisnu, seluruh jalur lomba berada di dalam kawasan hutan bagian dari Taman Negara Malaysia. Tidak hanya lintasan tanah lurus berupa jalur kendaraan penebangan hutan, tapi juga single track. Tidak hanya tanjakan dan turunan panjang, namun juga patahan pendek dan bebatuan. Bahkan terdapat genangan lumpur, sungai, dan hamparan pasir yang sanggup menggulingkan berbagai jenis motor.

“Di lintasan jalur penebangan hutan kita bisa melesat cepat. Tapi kalau salah akibatnya bisa fatal. Beberapa motor besar saya dapati berguguran setelah gagal mengantisipasi tikungan dan permukaan jalan berpasir. Bahkan sebuah Honda Africa Twin saya temui mengalami pecah mesin,” ungkap jurnalis yang gemar bermain trail ini.

Wisnu menambahkan bahwa tak sedikit tanjakan-tanjakan terjal berbatu harus dilalui. Sementara di paruh akhir lomba terdapat jalur naik-turun di lereng pegunungan yang membutuhkan kelihaian tersendiri. Dengan permukaan tanah cenderung berpasir, lintasan jadi sangat licin.

“Lepas dari hutan kita dihadiahkan jalur cepat. Tapi konturnya di perbukitan atau kawasan hutan yang telah dibuka. Kita bisa main cepat di sini, namun dengan resiko jatuh ke dasar-dasar lereng perbukitan karena pada titik ini umumnya energi sudah terkuras,” kata dia.

Hal tersebut diakui Nik. Rimba Raid memang didesain untuk permainan strategi dan keterampilan. “Anda boleh pilih, main cepat di awal, tapi lambat di akhir-akhir lomba, atau tetap bermain dalam irama terukur. Lihat para peserta yang mampu finish, semua tangan bergetar kelelahan,” ucap Nik, arsitek yang membuka lintasan Rimba Raid.

Nik berharap di tahun-tahun ke depan lebih banyak para pembalap off-road dari Indonesia bisa ikut Rimba Raid. “Mau berkomptisi silakan. Mau mencari pengalaman pun boleh. Atau, kalau sekadar ingin melihat keindahan alam di sepanjang jalur lomba pun boleh,” ujarnya.

WISNU ‘GARENG’ GUNTORO (PAHANG, MALAYSIA)