Beranda UPDATES Pantaskah Pertamina Menaikkan Harga Pertamax?

Pantaskah Pertamina Menaikkan Harga Pertamax?

JAKARTA, 23 Oktober 2018 — Pertamina beberapa waktu lalu mengumumkan kenaikan harga BBM Harga minyak mentah dunia yang saat ini menembus US$ 80 per barel membuat Pertamina terpaksa menaikkan harga bahan bakar BBM non subsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dex  Series termasuk Biosolar Non PSO.

motovaganza award

Penetapan harga baru ini mengacu pada Permen ESDM No. 34 tahun 2018 Perubahan Kelima Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 39 Tahun 2014, Tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM.

Di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax naik menjadi Rp 10.400 per liter, Pertamax Turbo Rp 12.250 per liter, Pertamina Dex Rp 11.850 per liter, Dexlite Rp 10.500 per liter, dan Biosolar Non PSO Rp.9.800 per liter.

Tetapi pantaskah Pertamina menaikkan harga Pertamax? Direktur Eksekutif Komite Pengasuhan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin mengatakan hal itu tidak pantas. Ia mengatakan harga Pertamax Rp 10.400 per liter, Pertamax Turbo Rp 12.250 per liter, Pertamina Dex Rp 11.850 per liter, Dexlite Rp 10.500 per liter, dan Biosolar Non PSO Rp 9.800 per liter.

“Wah terlalu mahal itu. Karena harga pokok penjualan (HPP) rata-rata bensin RON 95 Sulfur Max 10ppm (BBM setara Pertamax Turbo) di Bursa Minyak Singapura (MOPS) untuk 12 bulan ini adalah Rp 7250/L sehingga jika dikenakan pajak akan menjadi Rp 9100/L. Jadi kalau dijual 12.250/L maka itu terlalu mahal. Demikian juga harga Pertamax 10.400/L itu juga terlalu mahal,” kata Ahmad Safrudin melalui pesan pendeknya.

Ahmad Safrudin juga menyebut untuk kenaikan Premium 88 dan Solar 48 (subsidi) tak mungkin terjadi, karena pemerintah harus menyelamatkan suara pemilu. “Karena sesungguhnya selama harga Premium 88 dan Solar 48 juga sudah dibayar rakyat melampaui dari harga yang sesungguhnya.”

“Saat harga crudes di bawah USD 40/barel, HPP Premium88 itu Rp 4060/L dan jika dikenakan pajak 25% maka harga jual mjd Rp 5075/L … so itung sendiri profit yg ditumpuk Pertamina dan Pemerintah ketika menjualnya dengan harga Rp 6550/L selama ini,” tambahnya. Dia juga menyebut harusnya Premium88 dan Solar48 itu dihapus saja, karena secara teknis merusak mesin kendaraan, secara ekonomi membebani negara.

REZA ERLANGGA