Beranda BLOGS Snail Trail ke Gunung Padang (Bagian I)

Snail Trail ke Gunung Padang (Bagian I)

Menikmati adventure riding santai ke situs prasejarah peninggalan Megalitikum

(Foto-Foto: Eka Zulkarnain & Raju Febrian/Motovaganza)

ANDA mungkin pernah mendengar nama Gunung Padang. Lokasinya di daerah Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Nama Gunung Padang mulai mendunia setelah dinyatakan sebagai situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum yang umurnya diperkirakan 4.700 – 19.000 Sebelum Masehi. Usianya ini jauh lebih tua dari Piramida Giza di Mesir, yang hanya 2.500SM.

Situs prasejarah ini berada di perbatasan Dusun Gunung Padang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Letaknya di ketinggian 885 m di atas permukaan laut. Menurut kesimpulan para tim ahli, Gunung Padang adalah komplek punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

24092-15-Moto-Gunung_Padang_01a

Nah, inilah membuat Motovaganza tertarik untuk riding ke lokasi itu. Dari referensi yang ada, perjalanan menuju Gunung Padang cukup menantang. Asalkan jangan lewat Puncak – Cianjur karena Anda hanya akan mendapatkan panorama pedesaan di jalan antara persimpangan Warung Kondang menuju Gunung Padang yang jaraknya sekitar 20-an km. Selebihnya jalanan raya, besar dan pemandangan kota. Kami memilih rute yang pertama.

Kami pun menyiapkan dua motor trail Kawasaki untuk menaklukan medan ke sana. Kawasaki KLX 150S lansiran akhir 2013 dan Kawasaki KLX 150L 2014.

24092-15-Moto-Gunung_Padang_01b

Hari Jumat, pertengahan Agustus. Kami berangkat jam 6 pagi, dengan titik pertemuan pertama di Lenteng Agung. Kami sudah menentukan rute melewati Sukabumi – Pasir Munding – Geger Bitung – Cireungas – Gunung Padang. Sengaja kami melewati rute ini karena dianggap lebih menantang dengan permukaan jalan beragam, dari mulai aspal rusak, berbatu, gravel, sampai jalanan berlubang yang sesuai dengan tunggangan yang kami pakai.

Semua perlengkapan adventure kami sudah siap. Kami menamai perjalanan ini snail trail adventure ride; yakni perjalanan dengan motor trail dalam kecepatan yang tidak terlalu kencang. Jalan siput istilahnya. Bukan cuma destinasi yang kami cari, melainkan juga menikmati setiap kilometer perjalanannya.

24092-15-Moto-Gunung_Padang_01d

Melewati jalan raya Margonda, Depok, kami sempat mengisi bensin terlebih dulu. Kawasaki KLX 150 S saya isi Pertamax full tank Rp 40 ribu. Sedangkan KLX 150L yang ditunggangi rekan saya, Raju Febrian, Rp 45 ribu. Maklum, tangki bensin kami sebelum mengisi masih ada sisaan kemarin. Selesai isi bensin, kami melanjutkan perjalanan ke wilayah Citayam, masuk ke Jalan Raya Grand Depok City, kemudian masuk Jalan Raya Kampung Sawah yang tembusannya ke Pemda Cibinong.

Motor kami pacu dengan kecepatan 80 – 90 km/jam. Di sini saya merasa KLX 150 S kurang enak. Tarikannya agak berat. Saya rencananya akan ganti oli di tengah perjalanan. Kami sampai di Bogor sekitar pukul 8 pagi. Untuk mencapai Sukabumi, kami tidak melewati Jalan Raya Tajur kemudian ke Ciawi. Jalannya kurang menantang untuk motor trail, dan lagi kalau kurang beruntung, jalanan macet. Selama saya melewati jalan itu, banyak kurang beruntungnya meskipun hari masih pagi.

24092-15-Moto-Gunung_Padang_01c

Kami memilih jalur alternatif melewati Jalan Cipaku – Cihideung. Ancer-ancernya masuk dari Istana Batu Tulis ke kiri, ikuti saja jalan tersebut dan keluarnya di Cigombong. Jalanannya kecil, muat dua mobil. Agak twisty dan menanjak. Tapi jalanan ini tidak dilalui oleh truk-truk besar atau pun bus karena kecil. Motor saya, KLX 150S, agak susah menikung. Maklum ban paculnya sudah tipis, jadi untuk berbelok harus lebih hati-hati. Perjalanan kami lancar jaya sampai akhirnya keluar Cigombong dan masuk kawasan Cicurug.

Sebelum sampai Pasar Cicurug, kami mengambil rute alternatif lagi Jalan Pamoyanan. Di sini kami berhenti sebentar untuk ngopi dan ngisi perut.  Lokasinya di warung pinggir jalan, yang penting ada parkir motornya dan tempat duduk enak. Di depan warung ngopi kami, terhampar bukit yang ciamik. Alhasil ngopi tambah nikmat.

24092-15-Moto-Gunung_Padang_01e

Sampai di Pasar Cibadak kami dihadang kemacetan parah. Selain pasar tumpah, banyak juga angkot yang ngetem seenaknya. Jangankan mobil, motor pun susah lewat. Titik kemacetan dari mulai Terminal Cibadak sampai pertigaan jalan menuju Pelabuhan Ratu memakan waktu 15 menit. Padahal paling jaraknya hanya 500 – 700 meter. Sayang tak ada jalur alternatif untuk menghindari ini. Kalau pun ada terlalu melambung.

Lepas dari kemacetan, motor kami pacu menembus traffic ramai di sepanjang Jalan Raya Sukabumi. Saat itu jarum jam sudah diangka 11 siang. Artinya kami harus bersiap-siap Sholat Jumat. Saya sempat kehilangan kontak dengan Raju. Saya pikir dia tertinggal di depan, ternyata dia sudah berada di depan dan kami sepakat untuk berhenti Sholat Jumat di Masjid Riyadul Irfan, yang letaknya tepat di tikungan Jalan Lingkar Selatan, Sukabumi. Kami sengaja memotong lewat Jalan Lingkar Selatan karena lebih dekat.

(Bersambung ke bagian II)

EKA ZULKARNAIN

latest updates

Tularkan Keselamatan Berkendara, AHM Cari Duta Safety Riding

JAKARTA, 20 Maret 2019 -- PT Astra Honda Motor (AHM) terus melakukan edukasi keselamatan berkendara kepada para milenial. Yang terkini,...

Lalui Tanjakan dan Turunan Terjal, Mampukah Royal Enfield Himalayan Bertahan?

TASIKMALAYA, 18 Maret 2019 – Royal Enfield Indonesia menggelar perjalanan bertajuk Tour of Indonesia yang berlangsung mulai tanggal 18-23 Maret...

Tips Mudah Membedakan Oli Federal Asli dan Palsu

JAKARTA, 20 Maret 2019 -- Bagi Anda yang membeli oli untuk sepeda motor Anda harus wasapada. Karena saat ini masih...

Peduli Penyandang Disabilitas, FIFGROUP Gelar Pelatihan

CIBINONG, 19 Maret 2019 -- PT Federal International Finance, anak perusahaan PT Astra International Tbk yang bergerak di bidang pembiayaan,...

700 Biker Hebohkan Suzuki Saturday Night Ride Yogyakarta

YOGYAKARTA, 19 Maret 2019 -- Yogyakarta meriah akhir pekan kemarin. Tak kurang 700 bikers turut serta menjadi peserta ajang Suzuki...