Beranda TEST RIDE Test Ride Lengkap KLX230: Lincah di Trek Off-road

Test Ride Lengkap KLX230: Lincah di Trek Off-road

Jakarta, 16 Juli 2019 – Setelah diluncurkan 22 Mei silam di arena Jakarta Fair 2019, Motovaganza.com mendapatkan kesempatan menguji Kawasaki KLX230 di kawasan Gading Serpong, dan trek speed off road Paramount. PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) sengaja memilah tes KLX230 untuk menunjukkan kemampuan dual purpose yang diusung oleh motor tersebut. Rute yang ditempuh sepanjang 22 km (17km on-road dan 5 km off-road).

Sebelum kita bahas pengujiannya, kami mulai dari beberapa hal penting yang Anda harus ketahui. Kawasaki KLX 230 memiliki dimensi (P x L x T) 2.105 mm x 835 mm x 1.165 mm. Ukuran ini hanya berbeda sedikit saja dari dimensi KLX 150 yakni, (PxLxT) 2.050 mm x 830 mm x 1.115 mm. Ini membuatnya memiliki posisi pengendaraan yang juga hampir sama.

Di sektor mesin, motor ini dibekali mesin baru berkubikasi 230 cc, SOHC, satu silinder, pendingin udara, dan sistem penyemprotan bahan bakar injeksi. Tenaga yangdihasilkannya mencapai 18,7 hp pada 7.600rpm. Sementara torsinya 19,8 Nm pada 6.100rpm. Tenaga dan torsi itu dialirkan ke roda belakang melalui transmisi 6 kecepatan.

KMI tidak mencopot mesin motor lain sebagai basisnya. Kelebihannya, mesin itu benar-benar diciptakan sesuai peruntukan motor dual purpose. Kelebihan lainnya, dari segi kapasitas mesin, KLX 230 tidak memiliki rival di Indonesia. Kelemahannya, mesin baru ini benar-benar belum terbukti kemampuan serta daya tahannya. Jika Anda ingin tahu seperti apa detailnya, Anda bisa membacanya di artikel 7 kelebihan Kawasaki KLX230.

Oke, kini saatnya pengujian. Saya mulai dari posisi duduk. Tinggi jok mencapai 885 mm dari permukaan tanah. Dengan tinggi badan mencapai 170 cm, posisi kaki saya menapak cukup baik di permukaan aspal. Posisi berkendara tegak layaknya motor trail atau dual purpose dengan posisi kaki agak menekuk, namun tetap nyaman.

Tidak ada kick starter di KLX230, yang ada hanyalah electric starter. Menurut saya, seharusnya KMI melengkapi motor ini dengan kick starter. Mengapa? Sebagai motor dual purpose, KLX230 akan digunakan di trek adventure off-road. Aki bisa saja soak atau bahkan mati saat off-road, sehingga dibutuhkan kick starter untuk menghidupkan motor dalam situasi darurat. Ini pernah saya rasakan di kaki gunung Tambora, Sumbawa beberapa waktu lalu. Akhirnya, prosesi menghidupkan motor sangat merepotkan dan menyita waktu.

Panel meter digital yang diusung KLX230 menampilkan informasi indikator bensin, speedometer, trip dan odometer hingga jam, mudah dilihat bahkan ketika berkendara. Selanjutnya, saya menyalakan motor, suaranya halus dan hampir tanpa getaran. Perlahan putaran gas saya putar, tenaga merambat halus. IRC Trials GP yang menjadi ban standar tentu tidaklah sesuai untuk peruntukan jalan raya. Pola ban berkotak-kotak membuat pengendaraan di atas jalan raya tidak memuaskan. Pun demikian, entakan torsi dan empasan tenaga lebih dari dari cukup di putaran bawah.

Kontras dengan putaran bawah, di atas kecepatan 75 km per jam motor seolah meraung membutuhkan tenaga lebih besar.  Toh motor masih bisa dipacu hingga lebih dari 100 km/jam, meskipun cukup lama untuk mencapainya. Anda juga kami jamin tidak akan nyaman mengendarainya berlama-lama di jalanan karena desain joknya nyaris persegi memanjang dari belakang tangki menuju buritan, tidak menopang bokong secara sempurna. Sisi positifnya, respons transmisi cepat, dan kopling terasa ringan sangat cocok untuk kondisi stop and go.

Off-road

Selepas pengujian on-road, kami diajak bermain tanah. Sesi off-road dilakukan di trek Speed off-road Paramount, Gading Serpong. Saya diberi kesempatan untuk menjajal KLX230 sebanyak tiga putaran. Sebelum memulai sesi off-road, pihak KMI mengharuskan test rider untuk menggunakan perangkat keselamatan mulai dari sepatu khusus motorcross, hingga safety gear. Langkah ini kami apresiasi sangat baik. Bahkan, guna memberikan pengalaman berkendara di medan off-road secara utuh dan maksimal, KMI mengganti ban IRC dengan ban Dunlop dengan kembangan yang lebih kasar. Ban ini amat berguna untuk membabat beragam rintangan mulai table top, tikungan tajam dan tanjakan terjal, hingga lintasan panjang untuk menguji akselerasi.

Setelah memenuhi semua syarat, saya diberikan kesempatan tiga putaran untuk menjajal KLX230. Pada putaran pertama saya gunakan untuk mengeksplorasi trek, dan berusaha untuk menghapal sweet spot yang bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan potensi motor.  Pada putaran kedua, kecepatan motor saya tingkatkan hingga mencapai 60-70 kpj. Kontras dengan pengujian di jalan raya, KLX230 begitu hidup pada kecepatan tersebut.

Kelebihan motor dengan sumbu ronda yang pendek adalah mudah dikendalikan saat bermanuver. Tidak heran jika Kawasaki mengklaim motor ini sangat cocok untuk pengendara pemula. Dilengkapi dengan ban berdiameter 21” untuk roda depan, dan 18” untuk roda belakang, mampu menanggulangi obstacle atau rintangan yang dihadapi di jalan. Hal ini juga semakin meningkatkan performa trail-riding.

Long-travel suspension depan dan belakang pada KLX230 akan sangat berguna di medan offroad. Sementara ground clearance setinggi 265 mm, memudahkan pengendara untuk melewati rintangan yang mereka temui. Saya pun keenakan membesut motor ini dan pihak KMI pun membiarkan saya membesut motor ini hingga 5 lap, dan hampir mengoverlap seorang test rider yang melaju pelan.

Sayang, kami tidak diberi trek adventure dengan lumpur atau air yang cukup dalam. Hasilnya, pengujian terasa kurang lengkap. Apalagi menurut kami, motor ini akan lebih banyak digunakan di medan adventure ketimbang motorcross.

Foto: Bayu Nurpatria