Beranda BLOGS Freddy Soemitro Jelajahi Indonesia-Timor Leste dengan Royal Enfield Classic 500 (1)

Freddy Soemitro Jelajahi Indonesia-Timor Leste dengan Royal Enfield Classic 500 (1)

JAKARTA, 1 Agustus 2017 — Bagi seorang bikers, berpertualang dan berkendara sepeda motor adalah perpaduan yang selalu menarik untuk dilakukan. Karena keduanya selalu memberikan pengalaman yang tak ternilai harganya. Salah satunya adalah Freddy Soemitro. Pecinta dunia otomotif dan bergabung di Ikatan Motor Besar Indonesia (IMBI) dari tahun 1989 baik sebagai pengendara motor besar maupun sebagai pengurus hingga saat ini. Freddy melakukan perjalanan yang diberi nama Ride into the Sunrise ini menjelajahi Pulau Jawa menuju Timor Leste menggunakan Royal Enfield Classic 500. Ini dia bagian pertama dari 3 bagian cerita perjalanannya.

Pengalaman dan kecintaan saya terhadap sepeda motor, membuat usia bukan lagi menjadi halangan bagi saya untuk menguji fisik dalam menjelajah berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia tentunya. Hamparan pesona keindahan alam, tradisi masyarakat, legenda hingga sejarah dari tiap-tiap wilayah menjadi magnet tersendiri bagi saya untuk tidak pernah saya sia-siakan kesempatan dalam menjelajahi Indonesia dan menguliknya lebih dalam selagi masih diberi anugerah kesehatan apalagi di usia yang kini sudah menginjak lebih dari 60 tahun.

Sekitar akhir tahun lalu, tepatnya pada tanggal 15 Agustus hingga 2 September 2016, saya dan rekan sesama penyuka riding, mewujudkan rencana kami untuk kembali melakukan riding adventure. Kali ini dengan menggagas tema “Ride into the Sunrise”, kami memilih untuk mengarungi nusantara mengendarai motor klasik dengan rute perjalanan yang cukup menantang, yaitu dari Cikampek ke Timor Leste, untuk mengeksplor ketangguhan mesinnya.

“Saya selalu merasa penasaran dan semangat untuk mengambil tantangan baru dan tentu saja, menyelesaikannya. Hobi riding ini membuat saya selalu merasa muda,” kata Freddy.

Melintasi Eloknya Pulau Jawa hingga Pulau Dewata

Dengan Royal Enfield Classic 500 sebuah motor tangguh dengan gaya klasik khas perang dunia yang konon telah terbukti hingga ke medan pegunungan Himalaya, kami memulai perjalanan di pagi hari pada Senin, 19 September dari Cikampek menuju Solo dengan total jarak sekitar 500 kilometer. Kami melewati jalur Pantura, ke arah Semarang sampai akhirnya tiba dan bermalam di kota Solo.

Di hari ke-2, kami melanjutkan perjalanan menuju Malang melalui medan-medan tanjakkan dari wilayah Madiun, Kertosono, Pare, sampai ke Batu. Selama perjalanan ini, kondisi motor yang kami tunggangi cukup kuat dan aman, tidak ada 1 baut pun yang kendur padahal medan yang dilewati cukup ekstrim. Berselimutkan udara dingin, kami pun beristirahat kembali di wilayah Batu, Malang, untuk mempersiapkan diri sebelum keesokan harinya melanjutkan petualangan kami.

Di hari berikutnya, kami memilih untuk melalui jalan umum guna mempercepat waktu tiba di destinasi selanjutnya, Denpasar, Bali, selambatnya pukul 18.30 WITA. Di pulau Dewata, kami kembali beristirahat serta melakukan pengecekan motor dan memulihkan stamina.

Bersambung ke bagian 2

SYAIFUL ACHMAD