Home EDITOR'S PICKS Ride and Respect (Bagian ketiga)

Ride and Respect (Bagian ketiga)

SHARE
(Foto-foto: Munawar Chalil/Motovaganza0

PARA pengendara motor besar sepertinya mendapat tempat istimewa di kalangan masyarakat Inggris. Selain dihormati oleh pengendara mobil, masyarakat biasa yang kami temui saat mampir istirahat atau parkir di dekat restoran, misalnya, selalu memandang kami dengan ramah, dan terkadang kagum. Di London, rombongan kami bahkan sempat diteriaki oleh seorang wanita muda pengemudi mobil, “Sooo sexyyyyy…” Hehehe…

Dan seperti juga di Indonesia, beberapa di antara mereka juga ikut memotret motor-motor Triumph kami yang sedang parkir. Malah, ketika mampir di Stratford Upon Avon, kota kecil yang dikenal sebagai kota kelahiran pujangga besar Inggris William Shakespeare, kami sempat dipandu seorang pria paruh baya yang baik hati. Dia meminta kami mengikuti mobilnya menuju area parkir gratis di dekat sebuah pusat perbelajaan.

Pengalaman berbeda juga kami alami saat bertemu atau berselisih jalan dengan para pengemudi sepeda motor lain. Mereka sangat friendly. Sebagain besar dari mereka menganggukkan kepala ke arah kami. Sebagian lainnya melambai rendah atau memberi lampu hi-beam. Tapi, tak ada satu pun yang membunyikan klakson.

Baca Juga:  Royal Enfield Moto Himalaya 2017, Kembali Menuju Leh

Hanya di London, saat tengah beristirahat usai mengisi bensin di sebuah pompa bensin. Saya kaget mendengar suara motor yang digeber-geber hingga memekakkan telinga. Saya sempat berpikir, siapa nih pengendara norak bin kampungan. Enggak taunya, si pengendara motor sport itu mencoba menarik perhatian kami yang sedang asyik ngobrol. Buktinya, ketika kami menoleh ke arah jalan raya, dia langsung melambai dan langsung tancap gas. Ada-ada saja…

08112015-Moto-Chalil-London_06

Tak terasa kami telah melahap sekitar 1.500 km dalam 7 hari berkendara di London dan bagian selatan Inggris Raya. Rasanya sangat berat untuk menyerahkan kunci motor-motor kami kepada petugas dari Triumph Motorcycles UK saat menyudahi perjalanan kali ini.

Akhirnya, saya dan teman-teman pulang ke Jakarta dengan membawa harapan dan keinginan baru untuk kembali riding di Inggris. Ada banyak tempat yang belum sempat kami kunjungi. Terutama kawasan Scotlandia dan Irlandia, dan tentu saja ke Isle of Man untuk merasakan aspal jalanannya yang setiap tahun menjadi tuan rumah balapan open road paling mengagumkan di seluruh dunia: Isle of Man TT. Toh, if you survived riding in Indonesia, most likely you will survive riding in every part of the world. Paling tidak begitulah kesimpulan saya, kecuali Tuhan berkata lain. Hehehe…

MUNAWAR CHALIL – Group Editor in Chief & Publisher Motovaganza.com dan Carvaganza.com

Baca Juga:  RAT Indonesia Sunday Morning Ride to GIIAS 2017

Berita Terkait:
Susahnya Mencari Lahan Parkir di London (Bagian pertama dari 3 tulisan)
Berkendara di Jalan Bebas Hambatan (Bagian kedua)

SHARE

Royal Enfield Moto Himalaya 2017, Jalanan Indah Menuju Debring

PANGONG TSO, 14 Agustus 2017 – Perjalanan Special Duty Editor Motovaganza, Ariya Sradha, sudah sampai di Pangong Tso sebuah wilayah...

RAT Indonesia Sunday Morning Ride to GIIAS 2017

BSD CITY, 13 Agustus 2017 – Ajang pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017, ternyata menjadi magnet penggemar...

AHM Sabet 13 Penghargaan The Best Contact Center Indonesia 2017

JAKARTA, 13 Agustus 2017 -- PT Astra Honda Motor (AHM) berhasil menyabet 13 penghargaan di ajang bergengsi The Best Contact Center Indonesia...

Royal Enfield Moto Himalaya 2017, Kembali Menuju Leh

PANGONG TSO, 13 Agustus 2017 – Penginapan di pinggir Pangong Tso atau Danau Pangong cukup untuk mengembalikan stamina. Special Duty...

Royal Enfield Moto Himalaya 2017, Perjalanan Berat di Pangong Tso

PANGONG TSO, 12 Agustus 2017 – Pengalaman mengesankan didapatkan Special Duty editor Motovaganza, Ariya Sradha saat mengikuti Moto Himalaya 2017....